
Produsen bus asal Tiongkok, Higer, menarik perhatian pengunjung pameran Bus2Bus 2026 lewat kehadiran Fencer F 18 EV — sebuah bus gandeng (articulated) listrik lantai rendah sepanjang 18,7 meter yang dibekali baterai berkapasitas hingga 640 kWh. Ukuran baterai sebesar ini menempatkan Fencer F 18 EV di jajaran bus kota listrik dengan kapasitas energi terbesar di kelasnya.
Raksasa Lantai Rendah untuk Angkutan Massal
Dengan panjang mendekati 19 meter dan konfigurasi gandeng, Fencer F 18 EV dirancang untuk koridor angkutan massal berkapasitas tinggi — jenis layanan seperti Bus Rapid Transit (BRT) yang mengangkut ratusan penumpang per perjalanan. Desain lantai rendah penuh memudahkan penumpang naik-turun dengan cepat di setiap halte, termasuk penyandang disabilitas dan penumpang dengan kereta dorong, sehingga waktu berhenti di halte lebih singkat dan perputaran armada lebih efisien.
Baterai 640 kWh: Apa Artinya?
Kapasitas baterai 640 kWh adalah angka yang besar untuk sebuah bus. Sebagai gambaran, banyak bus listrik kota beroperasi dengan baterai di kisaran 300–400 kWh. Kapasitas ekstra ini memberi dua keuntungan: jangkauan operasi harian yang lebih panjang tanpa perlu mengisi ulang di tengah shift, dan fleksibilitas bagi operator untuk menjalankan rute panjang atau padat tanpa kekhawatiran kehabisan daya. Higer menggunakan kimia baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) yang dikenal lebih tahan panas, berumur siklus panjang, dan relatif lebih aman dibanding kimia baterai lain — faktor penting untuk kendaraan yang beroperasi intensif setiap hari.
Sinyal Arah Elektrifikasi Bus Komersial
Kehadiran unit sebesar ini di panggung Bus2Bus 2026 menegaskan bahwa elektrifikasi tidak lagi terbatas pada bus kecil atau menengah. Produsen kini percaya diri menghadirkan bus gandeng listrik untuk melayani koridor tersibuk sekalipun. Bagi kota-kota besar yang ingin menekan emisi dari sektor transportasi publik, bus semacam ini menawarkan solusi kapasitas tinggi sekaligus bebas emisi buang di jalanan.
Untuk Indonesia, bus gandeng listrik seperti Fencer F 18 EV paling relevan untuk sistem BRT seperti TransJakarta yang sudah mulai mengadopsi bus listrik. Tantangannya bukan pada teknologi kendaraan, melainkan kesiapan depo, daya listrik terpasang, dan manajemen pengisian armada dalam jumlah besar. Baterai 640 kWh memang menjanjikan jangkauan panjang, tetapi butuh infrastruktur pengisian berdaya tinggi agar downtime tetap rendah. Tren global menunjukkan ukuran baterai terus membesar — kabar baik bagi operator, asalkan ekosistem pendukungnya dibangun paralel.
Sumber: Sustainable Bus (sustainable-bus.com).